WELCOME TO OUR BLOG

I HOPE YOU ARE SATISFIED VISIT OUR BLOG

Kamis, 14 Maret 2013

Kehidupan Bumi Berasal dari Alga Luar Angkasa?

Gambar menunjukkan mikrofosil. Dinyatakan, kehidupan di Bumi berasal dari alga luar angkasa yang dikirim oleh meteorit
CARDIFF — Bahasan mengenai asal muasal kehidupan di Bumi selalu menarik perhatian. Beberapa ilmuwan meyakini kebenaran hipotesis "cometary panspermia" yang menyatakan bahwa kehidupan yang ada di Bumi berasal dari luar angkasa dan komet membawanya ke Bumi.

Baru-baru ini, tim peneliti dari Cardiff University yang dipimpin oleh Jamie Wallis menunjukkan bukti yang mendukung hipotesis tersebut dalam artikel yang dipublikasikan di Journal of Cosmology.

Dalam artikelnya, Wallis dan koleganya menampilkan foto hasil citra mikroskop elektron dari fosil alga yang melekat pada sampel pecahan meteorit. Meteorit yang dimaksud adalah meteorit yang jatuh di Polonnaruwa, Sri Lanka, pada 29 Desember 2012 lalu.

Wallis memperoleh sampel meteorit dari peneliti Sri Lankan Medical Research Institute di Kolombo. Sebanyak 628 pecahan batu meteorit diberikan oleh peneliti Sri Lanka tersebut.

Wallis dan timnya yang melakukan identifikasi sampel-sampel tersebut. Mereka menemukan ada tiga sampel yang tergolong carbonaceous chondrite. Mereka mengonfirmasi bahwa batuan yang dimaksud memang berasal dari pecahan meteorit.

Merujuk pada hasil foto elektron fosil alga yang ditemukan, Wallis menegaskan bahwa flagella tipis yang dimiliki oleh fosil alga itu merupakan bukti bahwa mikroorganisme yang melekat di meteorit tersebut telah berevolusi dengan lingkungan yang memiliki gaya gravitasi dan tekanan rendah.

Tim peneliti yang dipimpin Wallis meyakini, keberadaan fosil alga pada batu meteorit itu merupakan bukti nyata bahwa kehidupan yang ada di Bumi berasal dari luar angkasa.

Pernyataan Wallis dan timnya tak pelak memunculkan perdebatan di kalangan para ilmuwan, sebagaimana dilansir Physorg, Rabu (12/3/2013). Ilmuwan yang tidak setuju dengan pernyataan Wallis mengatakan bahwa mungkin saja sampel yang dianalisis telah terkontaminasi organisme modern.

Namun, Wallis dan timnya berkilah. Mereka beralasan, posisi fosil yang terletak jauh di dalam bagian matrik, dan kandungan nitrogen pecahan rendah. Mereka tetap berpendapat bahwa fosil yang ditemukan merupakan organisme dari masa lampau.

Ada pula ilmuwan yang berpendapat bahwa batuan sampel itu terbentuk akibat sambaran petir. Argumen ini disanggah Wallis dan rekannya yang mengatakan bahwa tidak ada laporan mengenai munculnya petir pada saat kejadian. Menurut mereka lagi, panas yang dihasilkan petir akan menghancurkan fosil tersebut.

Ilmuwan lain yang skeptis juga menuturkan, sampel yang dianalisis bisa saja berasal dari Bumi. Karena ada jatuhan asteroid, batuan yang mengandung materi biologis dan air itu terlempar ke luar angkasa. Mungkin saja, batu itu kembali lagi.

Fakta yang mengejutkan dari kajian Wallis dan timnya adalah, semua fosil yang ditemukan di sampel yang dianalisis seluruhnya adalah jenis mikroorganisme perairan tawar yang hidup di Bumi.

Oleh karenanya, bila pendapat Wallis benar bahwa fosil tersebut berasal dari luar angkasa, maka secara tidak langsung berarti fosil-fosil itu punya sejarah evolusi yang sama dengan saudaranya yang hidup di Bumi. Ini mengejutkan mengingat lingkungan luar angkasa jauh berbeda dengan Bumi.
Sumber :

Rabu, 13 Maret 2013

Foto Pertama Venus Diintip dari Saturnus

Venus tampak sebagai bulatan terang di antara cincin Saturnus. Foto ini diambil 4 Januari 2013 lalu.
Baru-baru ini, NASA memublikasikan dua foto planet Venus yang diambil dari sebuah satelit yang mengorbit di Planet Saturnus.

Satelit yang bernama Cassini, yang merupakan satelit hasil kerjasama antara NASA, European Space Agency, dan Italian Space Agency, telah memotret Venus pada dua posisi berbeda di waktu yang berbeda.

Diberitakan Space, Minggu (3/1/2013), Foto planet Venus pertama diambil tanggal 10 November 2012. Saat itu, Cassini berjarak 802.000 km dari Saturnus, dan kira-kira 1,42 milyar km dari Venus.

Pada foto pertama, Venus tampak seperti titik kecil berwarna putih terang yang terletak di sebelah kanan atas sedikit dari tengah-tengah cincin Saturnus. Ini karena jarak yang begitu jauh antara satelit dengan Venus.

Posisi satelit saat memotret, berada sedikit di bawah cincin saturnus saat satelit berada di balik bayangan Saturnus. Setiap piksel dari foto ini mencakup area seluas 44 km.

Foto kedua memperlihatkan Venus dari Saturnus pada posisi yang berbeda. Pada foto yang diambil pada tanggal 4 Januari 2013, Venus terletak di bagian atas foto, terhimpit diantara Saturnus, lengkungan sayap dan cincin G (cincin tipis yang terletak di bagian luar cincin Saturnus).

Setiap piksel pada foto ini mewakili area seluas 32 km. Jarak antara satelit Cassini dengan kedua planet (Saturnus dan Venus) pada waktu pemotretan ini lebih dekat dibandingkan pemotretan yang pertama. Kali ini, Cassini hanya berjarak 597.000 km dari Saturnus dan 1,37 milyar km dari Venus.

Foto ini bukanlah intipan pertama Cassini. Sebelumnya, Cassini pernah mengambil foto bumi yang begitu memukau, yang menggambarkan posisi bumi dilihat dari planet Saturnus. Foto yang kemudian diberi judul “Dalam Bayangan Saturnus” diambil pada tahun 2006. Foto ini adalah salah satu foto yang paling populer yang berhasil diambil Cassini sampai saat ini.

Satelit Cassini diluncurkan ke luar angkasa pada tahun 1997 dan mulai mengorbit di Saturnus pada tahun 2004. Tugas utama satelit ini dikirim ke Saturnus adalah untuk mempelajari planet bercincin berikut dengan bulan-bulannya yang begitu banyak. Saat ini, satelit ini tengah dalam perpanjangan misinya sampai dengan akhir tahun 2017.

Source : SPACE.COM