WELCOME TO OUR BLOG

I HOPE YOU ARE SATISFIED VISIT OUR BLOG

Senin, 24 Juni 2013

Akankah Badai Asteroid Mengancam Kehidupan Manusia?

Mari mengilmiahkan apa yang ada di film fiksi ilmiah. Ini perlu karena tak semua yang dideskripsikan dalam film fiksi ilmiah memang benar-benar ada. 

Contoh, film After Earth yang diputar di bioskop Indonesia sejak 5 Juni 2013 lalu. Di film itu diceritakan Cypher Raige (Will Smith) dan Kitai (Jada Smith) yang melakukan penerbangan antariksa mengalami serangan badai asteroid sehingga terpaksa harus mendarat di planet yang ternyata Bumi. Dikisahkan, manusia telah meninggalkan Bumi selama 1.000 tahun, menetap di planet bernama Nova Prima. 

Nah, apakah memang ada fenomena badai asteroid itu? Apakah itu akan menjadi ancaman bagi manusia?

Ferry M Simatupang, astronom dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan, fenomena yang disebut dengan badai asteroid sebenarnya tidak ada. Ia mengatakan, memang ada wilayah di Tata Surya yang kaya asteroid. Namun, kalaupun terbang di wilayah tersebut, fenomena badai asteroid tidak akan terjadi karena jarak antara asteroid satu dan yang lain masih cukup jauh.

"Jadi istilah badai asteroid di After Earth itu baru pertama kali didengar," kata Ferry saat dihubungi Kompas.com, Selasa (11/6/2013).

Sementara itu, astronom amatir Ma'rufin Sudibyo juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, mungkin yang dimaksud dalam film adalah badai meteoroid yang selalu disaksikan penduduk Bumi sebagai hujan meteor. Menurut Ma'rufin, badai asteroid adalah fenomena yang belum dikenal dan sulit terjadi. 

"Yang lebih mungkin terjadi adalah badai komet," cetus Ma'rufin. Asteroid dan komet berbeda. Salah satu perbedaannya adalah material penyusunnya. Asteroid tersusun atas batuan logam, sementara komet tersusun atas es. 

Ma'rufin mengungkapkan, badai komet adalah peningkatan jumlah komet yang memasuki Tata Surya bagian dalam hingga jauh di atas normal. Jika sekarang terdapat 100-150 komet per tahun yang melintasi Tata Surya bagian dalam, maka saat badai komet nanti jumlahnya bisa meningkat hingga ribuan kali lebih besar. Jika saat ini komet yang lewat berasal dari keluarga Kreutz Sungrazer (komet yang mampu mencapai titik yang sangat dekat dengan Matahari), maka dalam badai komet nanti, komet yang melintas bisa berasal dari keluarga lain.

Kapan badai komet terjadi? "Kalau menurut hipotesis Shiva, akan terjadi setiap 30-33 tahun sekali," kata Ma'rufin.

Hipotesis ini diusulkan oleh Michael Rampino dari New York University, menguraikan kemungkinan kepunahan massal karena tumbukan benda langit. Dalam hipotesis ini, gravitasi dari Tata Surya saat melewati lengan Bimasakti mampu mengganggu orbit komet di wilayah Awan Oort sehingga komet bergerak ke dalam Tata Surya, meningkatkan kemungkinan tumbukan.

Meski demikian, hipotesis Shiva ini pun belum sepenuhnya diterima kalangan ilmuwan. 

Jadi, apakah badai asteroid dan badai komet mengancam manusia? Untuk badai asteroid, karena fenomenanya saja sebenarnya tidak ada, maka jawabannya tidak. Untuk badai komet, hipotesis Shiva masih perlu dibuktikan dahulu. 

Film After Earth juga menyuguhkan beberapa kondisi yang sebenarnya tak mungkin terjadi. Misalnya, perbedaan ekstrem suhu siang dan malam dalam kadar karbon dioksida tinggi dan makhluk hidup raksasa di tengah kondisi lingkungan yang rusak dan ditinggalkan manusia.

26 Lubang Hitam Baru Ditemukan di Galaksi Andromeda

26 lubang hitam baru ditemukan di galaksi Andromeda. | NASA



Pusat galaksi Andromeda, galaksi yang akan bertabrakan dengan Bimasakti miliaran tahun mendatang, ternyata penuh lubang hitam.
Pengamatan dengan Chandra X-Ray Observatory milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan 26 lubang hitam baru. Jumlah lubang hitam di galaksi tersebut kini menjadi 35 buah.
Jumlah ini ternyata belum semuanya. Astronom percaya, jumlah lubang hitam jauh lebih banyak dari yang ditemukan saat ini.
"Sementara kita terpesona menemukan begitu banyak lubang hitam di Andromeda, kami berpikir ini cuma puncak gunung es. Kebanyakan lubang hitam memiliki rekan dekat dan ini yang tidak terlihat," ungkap Robin Barnard dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics.
Sebanyak 26 lubang hitam baru ini ditemukan lewat lebih dari 150 observasi Chandra selama kurang lebih 13 tahun.
Menggunakan data dari Chandra dan XMM-Newton X-Ray milik European Space Agency, astronom mampu menemukan benda yang tak terlihat dengan mendeteksi energi yang dilepaskan oleh material super panas dari bintang sekitarnya.
Foto di atas menggabungkan data optik Warner and Swansey Observatory di Kitt Peak, Arizona, dengan sisipan hasil observasi. Lubang hitam baru diberi tanda kuning.
Observasi selama lebih dari 12 tahun membuat astronom mampu menggambarkan galaksi Andromeda ini. Astronom mampu membedakan apakah suatu obyek yang terdeteksi merupakan lubang hitam atau bintang neutron.
Meski bintang neutron juga akan melepaskan sinar X seperti lubang hitam, bintang neutron lebih energik dan terang.
Karena pusat galaksi Andromeda lebih besar dari Bimasakti, lebih banyak lubang hitam terdapat di galaksi itu.

"Dalam kasus Andromeda, kita punya tonjolan dan lubang hitam super masif lebih besar. Jadi, kami memperkirakan ada lubang hitam kecil lebih banyak terbentuk di sana," kata Stephen Murray dari John Hopkins University seperti dikutip Discovery, Kamis (13/6/2013).

Penemuan lubang hitam di Andromeda ini dipublikasikan di The Astrophysical Journal edisi 20 Juni 2013 yang telah terbit baru-baru ini.
Sumber : DISCOVERY